Jun 18, 2007
REFLEKSI PERNIKAHAN

Tanggal 9 Juni 2007 kemarin, aku menghadiri prosesi pemberkatan nikah Kak Rosinta dengan calon suaminya seorang perwira angkatan laut, di gereja HKBP Paledang. Barangkali ini momen terindah buat Kak Rosinta setelah sekian lama menantikan pasangan hidup. Usia 34 tahun bukan usia yang cukup muda untuk membentuk mahligai rumah tangga khususnya menurut pandangan orang batak, karena seorang gadis idealnya sudah harus menikah sebelum umur 27 tahun. Konon, zaman dulu jika di atas umur ini belum juga mendapatkan jodoh maka orang tua harus menggunakan kekuatan perdukunan untuk menimbulkan kekuatan daya tarik dalam diri si gadis.

 

Untunglah tradisi itu tidak lagi dipelihara meskipun tidak dipungkiri masih ada golongan masyarakat tertentu yang masih tertarik memanfaatkan jasa dukun prefesional, karena pada zaman modern ini daya tarik supranatural telah digantikan dengan upaya mempercantik diri baik dari luar maupun dari dalam tubuh dengan mengikuti gaya fasion terbaru, mengikuti kelas pengembangan kepribadian serta upaya mempromosikan diri melalui rublik jodoh di televisi, radio, koran. Jadi saat ini jika seorang wanita belum juga mendapatkan lelaki istimewa disekitar tempat kediamannya,. ia masih berpeluang mendapatkannya di wilayah lain, dari daerah yang bahkan belum pernah dikunjunginya, dengan memanfaatkan berbagai fasilitas kontak jodoh di media massa. Konon kontak jodoh demikian bermanfaat sampai-sampai dapat dianalogkan dengan fermon, hormon seksual pada serangga betina, yang bisa menarik perhatian pejantan dari ratusan km bahkan ribuan km untuk datang mendekati.

 

Tapi, perlu disyukuri, Kak Rosinta tidak sampai harus mencantumkan namanya sebagai salah satu peserta kontak jodoh, atau ikut kelas kepribadian dan fasion, walaupun masih ada sedikit nuasa perjodohan antar keluarga, untuk bisa menemukan pasangan hidupnya. Dan sosok pria yang menjadi calon suaminyapun cukup istimewa, setidaknya dari kaca mata penilaianku[2], seorang perwira tinggi Angkatan Laut berpangkat Letnan Kolonel dan memegang sebuah jabatan strategis di Surabaya. Tentu saja hidupnya telah mapan. Meski usianya sudah kelewat uzur, tapi inipun terjadi karena sesuatu alasan yang patut dihargai, demi sebuah pengorbanan bagi adik-adiknya. Ia bertekad tidak menikah hingga adik-adiknya mandiri dan sukses, dan ia sudah mewujudkannya, sehingga tidak ada lagi alasan untuk tetap melajang.

 

Gembira

Semua tampak gembira, Kak Rosinta bergembira demikian calon suaminya, keluarga juga tampak bergembira demikian juga kami teman-temannya yang hadir. Senyuman Kak Rosinta pada saat itu merupakan senyum paling manisnya yang pernah kulihat. Namun cukup dengan sebuah senyuman untuk mengekspresikan kegembiraan karena tidak boleh lebih dari itu, jika sampai berteriak, loncat tentu saja rasanya kurang etis meskipun dari hati paling dalam mengespresikannya dengan cara demikian. Well, karena kehidupan sosial kita penuh dengan batasan, norma-norma, sehingga saat gembira harus tetap terlihat tenang-tenang saja saat marah juga harus telihat tenang-tenang saja.

 

Tapi kontrol terhadap tata krama kadang tidak berlaku konsisten apalagi saat tidak sinkron dengan suasana perasaan sesungguhnya, sehingga sesekali aturan agak sedikit dilanggar. Demikian halnya yang terjadi sewaktu pemberkatan, setelah Kak Rosinta dan suaminya menyatakan ikrarnya dan melakukan tukar cicin, tiba-tiba secara spontan Kak Rosinta mencium pipi kiri dan kanan calon suaminya itu. Akibatnya banyak jemaat yang terkejut namun kemudian melemparkan tersenyum.

 

Ternyata adegan itu tidak patut dikategorikan sebagai bentuk pornografi sehingga meskipun berlangsung di atas altar yang suci dan sesungguhnya tidak diperbolehkan melakukan aksi sedemikian, namun ada toleransi, toh, Amang Pendeta juga telihat tersenyum. Karena itu adalah  ekspresi kegembiraan dan  cinta kasih yang tidak bermuatan nafsu birahi. Bahkan ada dari naposo yang  menyaksikan aksi itu dengan tertegun dan tanpa sadar menguman,

               

” Inang, romantis kali”.

 

Demikianlah kegembiraan itu berlanjut hingga pemberkatan selesai, yang berarti Kak Rosinta dengan suami sah menjadi suami istri dihadapan Tuhan dan kemudian mereka beserta rombongan bergerak ke gedung Sapalatua untuk melakukan acara adat. Tujuannya dilaksanakannya acara ini, agar mereka juga resmi sebagai suami istri secara adat, serta terbentuk sebuah hubungan kekeluargaan baru antara kelurga besar Kak Rosinta dengan keluarga besar dari pihak suaminya. Acara ini berlangsung hingga sore hari dengan segala hiruk pikuknya gondang batak, dan sahut menyahut raja parhata dari kedua belah pihak keluarga besar serta tamu yang hadir dengan segala aktivitasnya. Setelah acara itu selesai maka resmilah Kak Rosinta dan suaminya sebagai suami istri baik secara Spiritual maupun secara adat.

 

Esensi Pernikahan

Demikianlah sebuah pernikahan terjadi. Melibatkan banyak orang, mengeluarkan biaya yang tidak kecil dan cukup melelahkan. Apalagi jika melibatkan adat, well, akan lebih ribet lagi. Mengapa mesti demikian? Hal ini tidak lain menunjukkan bahwa pernikahan adalah sebuah siklus hidup yang penting. Dalam berbagai  bentuk kebudayaan tradisional, pernikahan merupakan salah satu siklus hidup disamping kelahiran, puberitas, dan kematian yang umumnya pelaksanaannya dilakukan dalam sebuah  ritual tertentu yang sakral. Setiap siklus mengambarkan adanya perubahan status kehidupan manusia, serta sebuah titik kehidupan yang memiliki sifat kritis disamping berbagai manfaatnya, jika tidak diperhatikan akan berdampak buruk bagi kehidupan kedua pasangan itu sendiri. Pernikahan merupakan perubahan dari kehidupan bebas menjadi terikat dalam tatanan rumah tangga, tempat dimana pelestarian masyarakat dilaksanakan melalui penghasilan keturunan dan pengajaran sosial dilakukan orang tua kepada anak, dan perubahan ini memiliki masa kritis, karena mengabungkan dua pribadi yang berbeda untuk hidup bersama dalam sebuah mahligai rumah tangga. Dan awal pernikahan menjadi awal yang rentan terhadap terjadinya konflik.

               

Proses adat istiadat merupakan prosesi penyiapan dua pribadi, pasangan suami istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Dalam adat batak mengulosi secara simbolis bermaknakan harapan agar dua pribadi yang akan menjadi suami istri dapat melebur menjadi satu pribadi, terikat tondinya (jiwanya), yang dimasa lampu ungkapan saat mangulosi menjadi doa pada Tuhan ataupun roh-roh nenek moyang untuk menyatukan jiwa kedua mempelai sehingga meskipun kelak menghadapi konfik-koflik, namun keluarga ini akan tetap utuh.

               

Namun pandangan tradisional ini rasanya masih relevan untuk mengambarkan kondisi pernikahan saat ini. Rumah tangga yang berusia muda pada masa kini juga tetap rentan dengan konflik bahkan lebih beresiko menjadi pisah. Masing-masing pasangan mulai memperlihatkan sifat asliya serta menonjolkan egonya. Pria yang biasa diperhatikan atau dimanjakan oleh ibunya mungkin akan mengharapkan perlakuan yang sama dari istrinya. Jika tidak memperoleh maka ia kemudian merasa kecewa. Demikian halnya dengan sang istri mengharapkan suaminya menjadi seorang pekerja keras seperti ayahnya, tapi ternyata tidak demikian, maka iapun merasa frustasi.

               

Jika kondisi ketidakpuasan demikian tetap terus terpelihara, tidak mustahil jika si suami atau si istri menjadi mudah tergoda untuk mencari kesenangan di luar, berselingkuh khususnya bagi mereka yang menghabiskan banyak waktu di luar luar setiap harinya. Atau juga suasana di dalam rumah menjadi tidak hangat, dan masing-masing suami istri mencari kesenangannya sendiri. Jika kondisi demikian berlangsung terus, bukan tidak mungkin jika rumah tangga tersebut dapat berakhir dengan kehancuran atau perceraian. Dan jika mereka telah memiliki anak maka suasana demikian tentunya tidak baik bagi perkembangan mental si anak, apalagi jika rumah tangga dipenuhi dengan pertengkaran, atau tidak ada suara yang terdengar sama sekali karena masing-masing sembunyi di kamarnya masing-masing. Maka anaknya tumbuh menjadi pribadi yang frustasi, kurang kasih sayang dan kemudian mencari orang-orang lain yang mau mencintai mereka yang berada di luar rumah yang dapat saja adalah orang yang salah dan menjerumuskan mereka. Sehingga bisa saja si anak kemudian terjerat narkoba, menjadi perek, atau melakukan kejahatan, karena mereka tidak memiliki dasar dan motivasi yang kuat untuk menjadi orang baik, karena orang tuanya sendiri seolah sudah menunjukkan dari tingkah lakunya bahwa mereka tidak berharga.

               

Namun saat jiwa telah terikat maka sepasang suami istri secara pelahan akan menyelesaikan konflik-konflik dengan baik yang mendorong mereka untuk semakin dewasa. Dan masing-masing mulai meninggalkan perilaku atau tuntutannya yang tidak realistis untuk secara pelahan berubah menjadi pribadi yang saling mendukung. Tidak ada pernikahan yang lepas dari konflik, namun konflik dapat menciptakan sebuah hubungan yang lebih baik jika ada keterikatan di dalamya.

               

Dan darimanakan sumber keterikatan itu? Tentu saja, bukan dari kekuatan supranatural melainkah sesuatu yang berasal dari dalam diri, yakni cinta kasih.  Dan cinta kasih harus dibedakan dengan nafsu yang merupakan perasaan keterikatan yang kuat dan mengebu-gebu serta mendorong hasrat romantis dan keingingan seksual, yang setelah hubungan seks belangsung, perasaan itu secara otomatis sirna. Cinta kasih adalah perasaan ketersatuan, didasarkan pada hasrat untuk saling membagi dan memberi, dan dimana pasangan kita menjadi bagian dari diri yang sanggup menimbulkan kepekaan bagi kita. Kesakitannya seolah kesakitan kita, demikian halnya dengan kesenangannya juga adalah kesenangan kita juga. Berbeda dengan dorongan seksual yang kesenangannya adalah berorientasi pada diri sendiri.

               

Namun cinta kasih adalah sebuah perasaan yang tidak timbul begitu saja, melainkah membutuh proses dan tindakan refleksi. Mengutip konsepsi  Heiddegard terhadap pemahaman ada, diawali perubahan pandangan terhadap pasangan kita dari sesuatu yang hadir bagi kesenanganku sebagai objek, bahwa ia harus cantik, harus menyenangkanku, sebagai sebuah hubungan pragmatis, untuk menjadi hubungan otentis dimana keberadaannya hadir begitu saja dalam kesadaranku sebagai mana ada dirinya sebagai misteri atau peristiwa ajaib, yang berakhir pada sebuah tindakan etis bahwa aku harus menjaganya dan memeliharanya, karena ia bukanlah lagi sebuah objek ontologis yang bisa menjadi objek pemahaman rasioku melainkan sudah menjadi sosok transedental.

               

Bagaimanakah kondisi ini dapat tercapai? Hanya mungkin melalui sebuah komunikasi, pertemuan wajah dan interaksi penuh keterbukaan, dengan telah dahulu melepaskan segala konsepsi tentang sumber keistimewaan manusia, seperti kepintaran, kecantikan, kekayaan dsb. Bahwa pasangan kita adalah kehadiran yang sungguh berharga dan bernilai, seperti yang dapat kita rasakan saat berbicara dari hati-hati menyampaikan sisi terlemah diri kita saat segala atribut keunggulan yang kita miliki kita lepaskan. Ada kesenangan di dalamnya, kebahagian, dan sebuah keajaiban apa yang disebut menjadi manusia. Meskipun seorang wanita bisa saja tampak genit, atau sinis, seorang pria memiliki keinginan memperdaya wanita, sesungguhnya merupakan bentuk mengada proyeksi dari masa lalu yang memprihatinkan sehingga patut menimbulkan keibaan, karena tidak ada keuntungan sejati dari perilaku yang memisahkan diri dari sesama atau manipulatif. Mungkin mereka belum sempat merasakan indahnya hubungan kasih sayang otentik dari sesamanya, sehingga mereka larut dalam usaha untuk tetap merasa aman melalui prakonsepsi janggal yang bersumber dari masa lalu.

               

Ketika cinta kasih didasarkan interaksi otentis maka sepasang kekasih akan terlepas dari konsepsi yang menciptakan sekat-sekat pribadi dan menjadi kekaguman terhadap eksistensinya masing-masing serta menimbulkan kesadaran etis memelihara dan menjaga keberadaan pasangannya itu sebagai tanggung jawab yang melebihi tuntutan untuk memelihara diri sendiri. Maka dalam situasi demikian masing-masing pribadi akan terus menjadi dan berakhir pada sebuah hubungan yang harmonis dimana masing-masing menjadi manusia yang utuh dan tentunya dipenuhi kebahagian.

 

Penutup         

Oleh sebab itu cinta kasih adalah fondasi yang harus terlebih dahulu dibangun ketika hendak mendirikan mahligai rumah tangga. Dan kondisi ini tidak mungkin terjadi begitu saja dan memerlukan proses untuk membuka diri kita pada kehadiran sang kekasih hati kita sebagai sebuah misteri dan lepas dari segala konsepsi kita yang mengkotak-kotakknya secara naif atas dasar kekayaan, prestasi kerja, kesukuan atau bentuk penilaian yang mereduksi lainnya. Jika kondisi ini dapat tercapai maka sebuah pernikahan dapat tetap langgeng sampai kapanpun.

               

Demikian halnya harapanku bagi pernikahan Kak Rosinta, semoga menjadi keterikatan otentis dimana masing-masing pribadi merasa berharga dan saling menghargai yang berakhir pada kebahagiaan. Kak  Rosinta adalah pribadi istimewa yang tidak dapat direduksi pada indikator apapun demikian juga dengan calon suaminya. Jika dua pribadi istimewa telah menyatu maka tidak ada alasan untuk tidak merasa bahagia.

               

Hanya saja keistimewaan itu membutuhkan keinginan dan tekad meraihnya yang tidak hadir begitu saja, maka carilah maka engkau akan mendapatkan. Semoga Kak Rosinta beserta pasangannya juga mendapatkannya.

 


Posted at 11:10 am by moan_esther
Make a comment  





<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed